Tag Archives: Fency Event

Touring Museum Transportasi TMII dan Buka Puasa Bersama Tunanetra

Pernah jalan-jalan ke TMII? Kalau jalan-jalan ke TMII bareng tunanetra sudah pernah belum? Wah! Bagaimana rasanya, ya?

Bulan Ramadan selalu menjadi bulan yang paling ditunggu oleh semua umat Islam yang ada di seluruh dunia karena pada bulan inilah segala amal ibadah yang kita lakukan akan dilipatgandakan pahalanya. Nah, untuk mengisi bulan Ramadan kali ini, pada hari Sabtu,     20 Juni 2015, FENCY (Fellowship of Netra Community) mengadakan acara touring ke museum transportasi dan buka puasa bersama dengan sahabat-sahabat tunanetra di Taman Mini Indonesia Indah. Acara ini bertujuan untuk mengenalkan sahabat tunanetra dengan jenis-jenis transportasi yang ada di Indonesia, serta berbagi dan menjalin silaturahmi dengan mereka.

10333745_721577847953048_994843828489404759_o

10989244_721577727953060_6082510255123488740_o

Meskipun cuacanya panas terik, sahabat tunanetra tetap semangat loh untuk mengelilingi museum tersebut. Mereka antusias sekali saat mendengarkan penjelasan mengenai alat transportasi yang mereka lewati. Apalagi, di museum ini, sahabat tunanetra juga dapat memegang alat transportasi. Jadi, mereka juga dapat merasakan bagaimana bentuk alat transportasi tersebut. Tidak hanya membayangkan saja.

11425475_721578587952974_7282280088583884313_o

11235397_721577724619727_4550924172220306562_o

20150620_114304

20150620_131421

1782416_721577734619726_6800265524776893420_o

Tidak hanya touring, FENCY juga mengadakan diskusi mengenai ‘Kesempatan Bekerja di Bidang Penerjemahan’ bersama mbak Mila Kartina dan mbak Rona Deswi dari KPSH (Komunitas Penerjemah Satu Hati) di Masjid Diponegoro TMII. Diskusi antara sahabat tunanetra dan KPSH (Komunitas Penerjemah Satu Hati) berlangsung seru. Apalagi, banyak sahabat tunanetra yang memiliki ketertarikan terhadap bidang pekerjaan ini.

11412190_721574661286700_6277729633242992526_n

10346184_721574591286707_9181278039519251601_n

1545040_721574827953350_357395966139879229_n

Setelah diskusi, tiba juga di bagian akhir acara, yaitu buka puasa bersama dan pembagian bingkisan yang isinya berupa almatsurat braille, alat sholat, dan sembako.

11270692_721577841286382_7837610020858166757_o

11257746_721575111286655_959094155992305574_n

10734055_721577914619708_6611513263149164106_o

To do good is noble. To tell others to do good is even nobler and much less trouble.”
― Mark Twain

Sampai jumpa lagi di acara FENCY selanjutnya.

Advertisements

[Nobar] Filosofi Kopi Movie

Hari Minggu (26/04), Fency kembali diundang untuk acara nonton bareng di Blok M Square. Tidak tanggung-tanggung, film yang ditonton kali ini adalah film yang lagi nge-hits banget di bioskop. Asik kan? asik kan? Asik bangeet laah. Filosofi kopi! Film yang diangkat dari kumpulan cerpen novelist muda dan berbakat, Dewi Dee Lestari, akhirnya bisa dinikmati juga oleh teman-teman tunanetra. Lewat sentuhan tangan sutradara handal Angga Dwimas Sasongko, cerita filosofi kopi hadir menjadi suatu karya seni yang sangat sayang untuk dilewatkan.

Film ini bercerita tentang perjuangan Jody dan Ben dalam mempertahankan kedai kopi yang mereka dirikan bersama, Filosofi Kopi. Hutang yang besar, idealisme Ben yang tidak tanggung-tanggung serta perbedaan pola pikir dan pengambilan keputusan antara Jody dan Ben yang semakin membuat perjuangan jadi makin sulit. Hingga seorang investor datang memberikan tantangan pada Ben, Sang Barista hebat, untuk meracik kopi terenak. Dan tantangan itu dimenangkan Ben dengan mahakaryanya, Ben’s Perfecto. Namun, persoalan muncul lagi saat El, seorang peneliti tentang kopi yang sudah berkeliling dunia, mengatakan bahwa dia pernah mencicip kopi yang lebih enak dari Perfecto milik Ben. Akhirnya, Ben dan Jody tidak punya pilihan lain selain mencari kopi Tiwus yang akan menentukan kelangsungan Filosofi Kopi dan persahabatan mereka. Selain nilai-nilai positif dalam mempertahankan Filosofi Kopi, film ini juga mengajarkan bahwa berdamai dengan masa lalu adalah hal penting untuk bisa melangkah maju. El, Jody dan Ben, ketiganya punya luka masa lalu tentang keluarga. Dan, memafkan dan menerima adalah hal terbaik dilakukan oleh ketiga pemeran film tersebut.

Nah, seru kan ceritanya? Lantas, bagaimana dengan teman tunanetra yang memiliki keterbatasan penglihatan? Masihkah mereka berkesempatan menikmati itu semua? Ya, tentu saja. Berkat bantuan teman-teman relawan, mereka pun bisa menikmatinya. Mau tau serunya kegiatan relawan Fency dari awal sampai akhir?

Keberangkatan
Ada 25 tunanetra yang diundang pada nobar kali ini. Keseluruhan peserta diminta untuk sudah sampai di Blok M pukul 10.00 Wib. Namun, demi kemudahan teman-teman tunanetra dalam mobilitas, kami, para relawan, akhirnya mengubah sistem penjemputan. Terdapat tiga pos penjemputan dengan jumlah total 10 orang relawan yang bertugas. Ketiga pos tersebut adalah terminal Blok M (Wisdania, Febi, Rika Perdana, Halimah, May, Haryo) , halte kedatangan Trans Jakarta (Dewi dan Riskha) dan Lobi blok M Square (Heli). Sebagian besar tunanetra akan dijemput di Terminal Blok M, sehingga relawan perlu dikerahkan lebih banyak di sana. Saat jam mendekati pukul 10.00 wib, keadaan menjadi semakin ramai. Beberapa tunanetra sudah mengabarkan bahwa mereka sudah sampai dan memberitahu bahwa mereka sudah ada di jalur X di terminal. Kemudian semua relawan akan bergerak mencari dan mengelilingi terminal sampai akhirnya bertemu. Tunanetra yang sudah hadir di Blok M Square, segera diantar ke lantai 5 untuk menunggu di acara mulai di XXI. Sekitar pukul 11.30, sebagian besar tunanetra sudah dimnobilisasi ke lantai 5. Peserta tunanetra terakhir hadir pada jam 11.45 wib.

IMG-20150427-WA0017

Foto bersama sembari menunggu semua peserta hadir

Pemutaran Film
Film dimulai sekitar pukul 12.15 wib. Semua peserta sudah duduk dengan manis di dalam bioskop bersebelahan dengan seluruh relawan. Selain dari Fency, relawan yang bertugas untuk penutur cerita juga bersumber dari relawan Filosofi Kopi. Pertama-tama acara nobar dibuka terlebih dahulu oleh Mba Ridla (Perwakilan Tim Filosofi Kopi). Kemudian Mba Ridla mempersilahkan Mba Ci, selaku founder Bioskop Bisik, untuk memberikan sedikit pengarahan kepada seluruh relawan tentang tata cara norbar kali ini. Setiap tunanetra dipasangkan dengan satu orang relawan yang bertugas untuk membisikkan cerita (relawan yang duduk disebelahnya). Jadi, setiap adegan yang tidak ada audionya (misal : adegan Jody sedang duduk menunggu Ben), setiap relawan akan membisikkan (menuturkan) dan menggambarkan adegan atau cerita tersebut kepada tunanetra. Setelah Mba Ci memberikan penjelasan singktnya, sambutan dilanjutkan oleh para pemeran Filosfi Kopi (Rio Dewanto dan Julia Es Telle). Mas Angga Sasongko, sebagai sutradara film ini juga memberikan sambutan penutup sebelum semua mulai menonton film. Film berakhir sekitar pukul 14.00 wib

IMG-20150427-WA0013

Suasana Nonton Bareng Filosofi Kopi

Tanya jawab dan Foto Bersama
Bapak Toto Sugiarto mewakili teman-teman tunanetra menyampaikan pertanyaan tentang beberapa scene di film Filosofi Kopi yang baru saja ditonton yang kemudian dijawab oleh Mas Angga Dwimas Sasongko.

DSC_0875    IMG-20150427-WA0014

Foto bersama seluruh tunanetra dan relawan

Foto bersama seluruh tunanetra dan relawan

2

Foto bareng setelah pemutaran film dan wawancara

 

Shalat dan Makan Siang Bareng
Setelah acara selesai, beberapa peserta dibantu untuk mobilisasi sholat dan makan siang. Quality Time untuk relawan dan tunanetra saling berbagi cerita.

5

Kepulangan
Setelah selesai makan siang, relawan Fency membantu mengantar pulang masing-masing tunanetra. Beberapa tunanetra ada yang pulang menggunakan kendraan umum (kopaja, metro mini) sehingga diantarkan oleh relawan ke Terminal Blok M dan selebihnya diantar sampai ke taxi dan halte Trans Jakarta. Dan proses mobilisasi pulangpun selesai sekitar pukul 16.30 wib.

Photo by : Mas Wawan, Mba Ci, Kak Dimas dan Tim Fency

Papandayan’s Blind Trekking 2015

Mendaki gunung merupakan salah satu pengalaman yang menyenangkan, terutama bagi para pecinta olahraga alam dan penjelajah rimba raya. Bercengkerama dengan alam, menghirup udara segar, melatih kekuatan fisik sampai alasan-alasan untuk sekedar istrahat sejenak dari rutinitas kerja, menjadi sederet sebab trekking sebagai aktivitas pilihan.

Namun, tidak semua orang dapat menikmati keindahan alam tersebut karena keterbatasan fisik yang dimiliki. Padahal mereka juga ingin merasakan hal yang sama. Ya. Mereka adalah teman-teman tunanetra yang sayangnya belum berkesempatan merasakan secara langsung pengalaman seperti yang kita rasakan.

Nah, ingin tahu serunya trekking bareng teman-teman tunanetra? 🙂

Fency Community proudly presents :

Pendakian massal bersama 30 Tunanetra dan 90 Relawan, Gunung Papandayan – Garut.
Dilaksanakan pada tanggal 30 April – 2 Mei 2015.
IDR 300.000 (Relawan)
IDR 200.000 (Tunanetra)

Fasilitas :

  • Simaksi + Asuransi
  • T-shirt
  • Transport PP
  • Doorprize
  • Makan 1x

*Pendaftaran paling lambat 5 April 2015
*Technical Meeting : Minggu, 12 April 2015 – Monas (Kandang Rusa)
*Meeting Point : Monas (Parkir IRTI) pk. 20.00 WIB.

Transfer :
Bank BCA 4910315795
a/n  Sri Supri Hartini

For further Information, please kindly contact us by this number : 085692415164 (Hikmah)

Fency

Papandayan’s Blind Trekking 2015. 30 April – 2 Mei 2015

Naik gunung bareng teman-teman tunanetra? Ya cuma di Fency!
Kalau enggak sekarang? Ya kapan lagi!